
Sejenak saya mencoba mengingat-ingat, kapan awal mulanya saya ketemu makhluk bernama dangdut ini.
Saat saya masih SD, di era 90-an, saya sudah mendengar lagu-lagu dangdut yang di putar di TVRI. Setiap malam Minggu, pergi nonton tivi ke rumah tetangga sebelah dan menyaksikan Aneka Ria Safari. Beberapa tahun kemudian hadir siaran TPI yang musiknya (waktu itu) hampir 100% dangdut semua.
Ketika saya sudah SMP, barulah sedikit akrab dengan genre musik lain, barulah saya tau bahwa ada jenis musik slow rock (mayoritas yang saya dengar adalah lagu-lagu negeri Jiran). Barulah saya tau ada kelompok band yang namanya Dewa19, Slank, Koes Plus, dan lain-lain.
Saat saya SMA dan hijrah ke kota, dangdut tak pernah lagi saya dengar. Saya justru mulai menyukai aliran rock semacam Scorpion, Metalik Klinik, Jamrud, dan sebagainya.
Tamat SMA, iseng-iseng saya menjadi kru sebuah grup dangdut di tempat saya (hingga sekarang). Dari sinilah, saya benar-benar menyukai dangdut. job mengalir lancar, ratusan pesta pernikahan dan acara lain telah saya temui. Berkat pekerjaan ini juga, saya bisa berkeliling Kalimantan Barat dengan gratis.
Dangdut pun, semakin mendalam di hati saya.
Dangdut pun, semakin mendalam di hati saya.
Melihat perkembangannya sekarang ini, musik dangdut tidak lagi dianggap musik kampungan. Dangdut telah mampu hadir di acara-acara resmi, mampu hadir di belahan dunia lain, mampu menjadi bentuk yang lebih universal.
Walaupun demikian, saya merasa aneh. Yang saya lihat lagu-lagu dangdut sekarang ini sudah tidak lagi murni seperti dulu. Lihat saja si Kucing Garong, dan Cinta Satu Malam. Bukanlah irama gendang yang membuat badan berjoget, tapi hentakan ritme house yang memacu adrenalin. Parahnya lagi, lahir penyanyi-penyanyi baru yang punya tampang dan body aduhai, berbaju seronok tapi suara pas-pasan. Yang lebih aneh, justru yang demikian itu yang cepat naik daun. Semakin lama semakin terasa pergeseran nilai moral bangsa kita ini.
Di sebuah malam yang cerah bertabur bintang, ditemani segelas kopi hangat dan sebungkus rokok, kupetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu cinta, ketika jiwa dipenuhi riak kerinduan :
Bulan, di manakah kini
Jangan kau sembunyi tampakkanlah diri
Bintang sepi menyendiri
Berselimut sunyi selalu mencari
Malam semakin kelam
Tanpa kau sang rembulan
Bintang sedih bermuram
Tanpa kau sang rembulan
Bulan di manakah kini
Jangan kau sembunyi tampakkanlah diri
Naluriku berkata bulan masih ada
Dan menanti bintang dengan penuh damba
Ku yakin bulan juga gelisah merana
Dan menanggung rindu dalam penantian
Bulan, bintang pun merindukanmu



0 komentar:
Posting Komentar